25 Nov 2022, 02:48

Sekelompok Ilmuwan Jepang Berusaha Membuat Robot yang Bisa Tertawa Bersama Manusia

Sekelompok ilmuwan di Kyoto University, Jepang, mencoba menciptakan sebuah sistem kecerdasan buatan yang memungkinkan agar robot bisa tertawa bersama manusia. 

Mengutip artikel berjudul Empathizing With Humans – Scientists Have Created a Robot That Can Laugh With You di laman Scitech Daily, sekelompok peneliti itu mempublikasikan teknik mereka untuk menciptakan robot bernama ‘Erica’ di jurnal Frontiers in Robotics and AI. 

Pada dasarnya sekumpulan ilmuwan tersebut berusaha mereplikasi kemampuan manusia dalam menanggapi lelucon manusia lain. 

Sederhananya, mereka berusaha mengembangkan AI untuk memahami cara kerja humor, sekaligus meningkatkan kualitas percakapan antara robot dan manusia. 

Sejauh ini para ilmuwan di Kyoto University beranggapan bahwa empati menempati fungsi penting dalam pengembangan kecerdasan buatan yang memungkinkan robot dan manusia bercakap dan saling melontarkan humor.  

“Percakapan, tentu saja, multimodal, tidak hanya merespons dengan benar. Jadi kami memutuskan bahwa salah satu cara robot dapat berempati dengan pengguna adalah dengan berbagi tawa, yang tidak dapat Anda lakukan dengan chatbot berbasis teks,” kata asisten profesor Kyoto University, Dr. Koji Inoue, seperti dikutip Scitech Daily.

Berbagi tawa antara robot dan manusia adalah kuncinya, menurut para ilmuwan di Kyoto University itu. Dalam proses tersebut, sistem kecerdasan buatan merespon tawa manusia dengan cara tertawa. Dan yang terakhir ini diyakini sebagai respon empati dari robot. 

Dengan pendekatan empati itu pula, kecerdasan buatan yang dikembangkan mereka membutuhkan desain tiga subsistem. 

Yang pertama sistem AI harus mampu mendeteksi respon tertawa. Kedua sistem AI juga harus memutuskan kapan waktu yang tepat untuk tertawa. Dan terakhir, sistem AI itu juga harus mampu memilih respon tertawa yang pas.

Yang menarik dari cerita di atas ada pada cara para ilmuwan Kyoto University dalam mengumpulkan data. Mereka mengumpulkan 80 percakapan dari kencan singkat yang melibatkan interaksi antara sekumpulan mahasiswa Kyoto University dan ‘Erica’ yang dioperasikan beberapa aktris amatir.

Namun Inoue mengaku tidak setiap momen memicu dua individu untuk tertawa bareng. 

“Tantangan terbesar dalam pekerjaan ini adalah mengidentifikasi kasus tertawa bersama, yang pada prakteknya tidak mudah. Nyatanya sebagian besar interaksi malah tidak menghasilkan momen tertawa bersama,” lanjut Inoue. 

Dengan fakta seperti itu, Inoue berpendapat tidak semua momen penuh tawa bisa digunakan untuk pengembangan ‘Erica’, dan timnya tidak bisa berasumsi bahwa ketika seseorang tertawa maka orang lain pun akan tertawa.

Lebih jauh lagi, tipe tertawa juga dianggap penting. Kita tentu sering mengalami situasi di mana seseorang mungkin hanya tertawa demi sekedar berbasa-basi - atau menghormati lawan bicaranya.

Namun dalam konteks penelitian yang disebutkan di artikel ini, para ilmuwan itu berpendapat tawa yang sopan mungkin lebih tepat untuk dianggap sebagai empati, ketimbang tawa yang keras. 

Sejauh ini para peneliti sudah mengumpulkan lebih dari 130 orang untuk mendapatkan beragam skenario yang bisa diterapkan untuk mengembangkan kecerdasan buatan ‘Erica’. 

Dari sekian banyak skenario yang berhasil terkumpul, “tertawa bersama” dianggap sebagai perilaku yang bekerja lebih baik ketimbang skenario lain. 

Hanya saja tujuan akhirnya bukan menciptakan ‘Erica’ sebagai robot yang mampu merespon humor manusia dengan cara tertawa. 

Lebih dari itu, riset yang sedang dilakukan ilmuwan di Kyoto University, seperti diakui Inoue, merupakan langka jangka panjang untuk menciptakan robot yang mampu merespon percakapan manusia layaknya teman baik. 

Dapatkan Konsultasi Gratis

Diskusikan sekarang juga kebutuhan IT perusahaan anda dengan customer support kami di
+62 822 9998 8870